Pembelajaran dari Nol Kilometer

Oleh: Sari Darmarani dan Debbie Hanna

file_view.jpgKisah perjalanan dan pengalaman mengikuti kegiatan Indonesia Reef di perairan dangkal Pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam rupanya membekas pada 12 relawan. Panitia pelaksana kegiatan, yang mengikuti dari Jakarta hingga kembali lagi, dan pelatih juga memiliki kesan yang menarik. Sejumlah pembelajaran, atas saran dan kritik dari para peserta, menjadi bahasan dalam evaluasi kegiatan.

“Saya dengar dari Ibnu (Fauna and Flora International/FFI), dia dan teman-temannya dari FFI diminta pihak walikota untuk melakukan presentasi hasil dari kegiatan kemarin,” kata Pariama Hutasoit dari YRCI saat bertandang ke kantor redaksi NGI. Teman-teman FFI memang sudah berencana untuk meneruskan pemantauan dan pemeriksaan kesehatan karang secara berkala untuk wilayah paling barat Indonesia, yang terdapat tugu Nol Kilometer yang sempat dikunjungi sobat-sobat relawan. Nah, artinya hasil yang didapatkan sobat relawan penyelam IR dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Lantas, “kita kan udah ambil data-data tuh. Mungkin nggak kita dikasih tahu hasilnya, kesimpulannya, terus bagaimana kemajuannya dari tahun lalu (misalnya), dan apa rencana atau program selanjutnya buat terumbu karang di Aceh? Kalau ada follow up dari reef check kemarin, kita-kita yang karbitan ini jadi ngerti apa yang kita kerjain dan hasilnya gitu lho, terus bisa ngerasa kalau kita ada andil dalam memelihara terumbu karang di Aceh,” tanya Mbak Parvita Siregar melalui surat elektronik beberapa waktu lalu. Hehehehe… Sabar ya Mbak Parvita, data yang didapat oleh sobat-sobat relawan sedang digodok dan dianalisa oleh Pak Jan Manuputty dari YRCI. Begitu kami dapatkan hasilnya pasti lah akan diumumkan secara terbuka. Karena pada dasarnya informasi tersebut adalah milik publik. Sebagai inisiator kegiatan ini, NGI jelas tak memiliki kepentingan apa pun karena pada dasarnya IR dicetuskan sebagai ajang pembelajaran dan kampanye kepedulian kita terhadap terumbu karang (Halah, kok jadi cerita ala Mas Tukul gini sih, maaf… maaf)

Nah, kembali ke lep… eh, maaf… kembali ke soal pemebelajaran. Relawan lainnya, Mas Teguh, salah seorang dari trio maskitir (baca: Three Musketeers), mengatakan bahwa sejak mendapatkan ilmu memantau karang dari kegiatan IR di Aceh itu, dirinya menjadi lebih perhatian terhadap keadaan sekitar saat melakukan penyelaman. Dalam sebuah surat elektronik ia menulis, ”Weekend kemaren gue ke P. Sepa, setelah mendapat training Reef Check, gue mulai perhatiin coral lebih detail lagi, dan sadly, ternyata banyak sekali yang bleaching, rock formation dan hancur jadi rubble.”

Wah, senangnya sekarang ini makin banyak sobat penyelam yang lebih peduli dengan keadaan sekitar. Kalau tempat main kita ajah sudah rusak, lantas kit mau main kemana lagi nih. Mbak Dewi Wardjojo berujar,” pelatihan kemarin itu telah meningkatkan kepedulian saya (terhadap terumbu karang) dan memang saya harus belajar lebih banyak lagi.” Apa yang dibilang Mbak Dewi benar adanya. Kami pun yang mencoba menggulirkan kegiatan ini terus berlatih, belajar, dan melakukan evaluasi setiap kali usai kegiatan. Tentunya, semua itu dijalankan dengan kesenangan dan kecintaan yang mendalam terhadap terumbu karang Indonesia.


About this entry