GLOBAL WARMING: BISAKAH DUNIA DISELAMATKAN DENGAN GOSOK GIGI?

untitled.JPGLho,apa hubungannya? Itu cuma menggabungkan beberapa berita dengan konteks global warming. Beberapa hari lalu saya baca di Kompas tentang Jennifer Aniston yang demi mengurangi gejala global warming rela menggosok gigi di bawah shower, ketimbang mengambil air khusus hanya untuk gosok gigi. Katanya juga mandi dengan shower lebih irit air daripada dengan gayung atau bak mandi yang jumlah airnya setara dengan kebutuhan air sekampung di Afrika. Ah, baik benar Jennifer Aniston. Mungkin, tapi sedikit sekali pengaruhnya. Sama tak berpengaruhnya dengan 12 tip menyelamatkan 2.000 pulau di Indonesia yang kita baca di internet, antara lain mematikan lampu yang tidak terpakai, mengganti bohlam, mencabut charger hape. Bahkan bila 12 tip itu dilipat gandakan hingga puluhan tip, saya tidak yakin membantu banyak terhadap pencegahan tenggelamnya 2000 pulau di Indonesia. Mengapa? Gaya hidup kita sudah boros. Ya, gaya hidup kita yang moderen ini sungguh boros enerji, bila limbah enerji kita tuding sebagai penyebab langsung pemanasan global. Segala benda yang memenuhi kebutuhan hidup kita ini dihasilkan dengan bantuan enerji: entah enerji listrik, BBM, atau sekedar enerji nasi atau rumput. Baik enerji yang terbarukan mau pun yang tidak. Malangnya pemakaian enerji yang tak terbarukan justru mendominasi pemakaian enerji terbarukan. Coba kita sebut.

Nasi yang kita makan kita masak dengan enerji listrik ketimbang enerji kayu bakar, begitu juga masakan lainnya. Pakaian kita cuci dengan mesin listrik ketimbang dengan mesin dari kayu nangka. Kebutuhan bepergian selalu menghabiskan enerji fosil daripada hasil kristalisasi keringat dalam arti sebenarnya. Sebut ubarampe rumahtangga apa yang tidak dihasilkan dengan bantuan enerji fosil: apakah dari kayu, metal, kertas atau bahan-bahan sintetis. Itu baru kita sebut tentang kebutuhan, belum yang hanya sekedar keinginan. Yang belakangan ini ragamnya banyak sekali dan umumnya hanya memenuhi gaya hidup, bukan kebutuhan hidup. Demi penampilan, demi komunitas, demi bisnis, dan….ck..ck..demi kesenangan belaka.

Hedonisme. Ya, gaya hidup atau kalau mau agak sopan, pola hidup kita ini pada suatu kurun waktu yang lalu sudah disebut sebagai hedonisme. Hanya demi kesenangan. Di pertengahan tahun 80-an saya ditegur seorang teman dan menyebut saya sebagai hedonis karena memasang keramik di lantai garasi saya. Konon, konsumsi listrik sebuah cafe bisa setara kebutuhan listrik sebuah desa di Afrika sedang konsumsi sebuah mall di Jakarta bisa setara dengan kebutuhan listrik se kabupaten Bantul. Tapi semuanya itu wajar. Wajar? Kalau itu lalu menghasilkan efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global, apa cukup diperbaiki dengan hanya gosok gigi di bawah shower, mencabut charger hape, mengganti bohlam, tetapi tidak merubah pola hidup yang boros?

Nasi sudah menjadi bubur. Pola hidup boros ini sudah global juga, kita sudah terjebak dan susah untuk kembali. Manusia terus menerus menuntut kemudahan-kemudahan hidup, walau pun anehnya dilakukan dengan bekerja lebih keras. Kemudahan-kemudahan itu didapat dalam bentuk benda-benda mau pun jasa, yang pengadaannya memerlukan enerji yang besar: rumah bagus, mobil bagus, makan enak, tidur nyenyak, bepergian cepat dan nyaman. Setelah kita dapatkan semua kemudahan, kenyamanan, kesenangan itu, bisakah kita selamatkan dunia dari pemanasan global hanya dengan gosok gigi?


About this entry