Wanaprastha Dharma, Universitas UDAYANA

pengurus.jpg

Mahasiswa Pecinta Alam “Wanaprastha Dharma” atau yang lebih sering disebut dengan Mapala WD merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) terkemuka dan eksis di lingkungan Universitas Udayana. Organisasi ini lahir pada 21 April 1981, sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa dalam menghayati nilai-nilai kebesaran Tuhan melalui dunia kepecintaalaman.

Cikal Bakal Mapala Wanaprastha Dharma

Pada tahun 1976, di mana iklim kehidupan kemahasiswaan diliputi oleh ketidakpastian, mengingat pada masa itu eksistensi Dewan Mahasiswa (DM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) mulai menyurut akibat adanya demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang menuntut kehidupan kampus lebih demokratis dan keterlibatannya pada politik praktis.

Ide pembentukannya dimulai dari mahasiswa FT Unud yang mengisi waktu liburnya dengan melakukan pendakian menyulut gagasan untuk membentuk group pecinta alam di lingkungan Fakultas Teknik. Bermula dari kumpul-kumpul di ruang SMFT, tiga mahasiswa jurusan arsitektur dan sipil, yaitu: R. Mohammad Ali (Ali Topan), I Gusti Putu Anindya Putra (WD-8101004) dan Wayan Ardana (WD-8101015) yang menghimpun rekan-rekannya dalam melakukan kegiatan pendakian di Gunung Batur dan Gunung Abang.

Sepulang dari pendakian terkumpullah calon anggota sebanyak lebih kurang 20 orang. Kemudian kelompok ini menamakan diri “Group Pendaki Gunung Fakultas Teknik”. Pada rapat formal yang pertama kalinya untuk membentuk organisasi agar dapat menjadi bagian dari Senat Mahasiswa Fakultas Teknik, namun pada saat itu belum ada kesepakatan untuk nama organisasi. Atas saran Wayan Gomudha (mahasiswa senior jurusan arsitektur) disepakati nama Mapala Wana Prastha Dharma (Mapala WPD - penulisan Wana dan Prastha masih dipisah) dengan argumentasi makna yang terkandung didalamnya. Dengan demikian masuklah Mapala Wana Prastha Dharma sebagai bagian dari SMFT, dimana untuk pertama kalinya I Gusti Putu Anindya Putra terpilih sebagai koordinatornya. Mapala Wana Prastha Dharma Fakultas Teknik mencanangkan tiga kegiatan utama yakni kegiatan pendakian gunung dan wisata alam, kegiatan penelitian dan aksi lingkungan hidup. Atas kebaikan Panglima Kodam XVI Udayana (pada saat itu) empat anggota Mapala WPD dititipkan untuk mengikuti latihan kemiliteran di Dodiklat Kediri, Tabanan, yaitu Ali Topan, IGP Anindya Putra, Astien Suparta dan Wayan Ardana.

Pada bulan Desember 1979 terdapat kegiatan mahasiswa nasional yang dilaksanakan di Kaliurang, Yogyakarta, yaitu Kemah Kerja Mahasiswa se-Indonesia dengan acara-acaranya adalah orienteering (lomba peta kompas), ceramah/penyuluhan, pengabdian masyarakat, kesehatan dan lain-lain. Universitas Udayana pada saat itu belum memiliki Mapala, maka Pembantu Rektor III yang dijabat oleh I Wayan Beni, SH memanggil I Gusti Putu Anindya Putra (yang pada saat itu terpilih menjadi Ketua SMFT) agar menyusun tim yang akan dikirim dan mengikuti lomba. Melalui beberapa kali pertemuan disepakati untuk menyusun tim yang terdiri dari 2 mahasiswa Fakultas Kedokteran (Dyah Paramita dan Made Maliawan), 2 mahasiswa Fakultas Teknik (Wayan Ardana dan Rangga Mahapaty) serta 2 orang mahasiswa Fakultas Hukum dengan Dr. IB Wirakusuma sebagai pembimbing. Untuk persiapan lomba orientering dilakukan kerjasama dengan Brigade Mobil Polda Nusra dan diadakan latihan selama satu minggu di Bedugul.

Hasil yang dicapai tim oleh ini adalah juara I lomba orienteering dan juara II lomba perkemahan. Hasil ini mendorong Pembantu Rektor II Universitas Udayana untuk melanjutkan kegiatan kepecintaalaman secara lebih terarah.

Terbentuknya Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana

Dengan berbekal mandat Pembantu Rektor III, pada bulan Januari hingga Maret 1981 dilaksanakan rapat antar ketua senat mahasiswa dan ketua badan perwakilan mahasiswa seluruh fakultas di lingkungan Universitas Udayana. Melalui pertemuan yang alot dan berkepanjangan (karena tidak semua ketua senat mahasiswa dan BPM memiliki visi kepecintaalaman) maka disepakati terbentuknya Mapala Universitas Udayana dengan nama Mapala “Wanaprastha Dharma” (Mapala WD – kata Wana dan Prastha disambung), dengan ketua formatur IGP Anindya Putra yang lebih dikenal dengan nama panggilan “Mas Bambang”.

Pada masa itu situasi kemahasiswaan masih dalam kondisi pro dan kontra dalam menerima konsep NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus), namun di lingkungan Universitas Udayana masih dapat dikendalikan, hal ini dimungkinkan karena adanya kesepakatan antara SM dan BPM dengan PR III untuk memfokuskan diri pada kegiatan ilmiah, olah raga dan kesenian. Tercatat muncul kegiatan drum band, bela diri Karate, Silat, Kempo dan sebagainya. Di bidang kesenian tumbuh inovasi seperti jangger dan topeng (FT), cak (FE), drama (FS), band (FH) dan sebagainya. Bahkan telah terbit pers kampus dengan Akademikanya. Kondisi ini bertahan hingga tahun 1984.

Dengan kondisi tersebut, maka dalam pertemuan pertamanya diminta tiap SM mengutus dua orang wakil yang memiliki wawasan kepecintaalaman, sehingga muncullah nama-nama seperti Made Redy Yuliawan (FE), Ketut Mendra (FK), Komang Paramaartha (FS) selain Astien Supartha, Wayan Ardana dan Rangga Mahapathy (FT) yang nantinya akan menjadi pioneer-pioneer Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana.

Melalui pertemuan-pertemuan secara maraton, terbentuk kepengurusan dengan ketua umum untuk pertama kalinya yaitu IGP Anindya Putra dengan sekretaris Made Redy Yuliawan, juga ditetapkan bahwa pemakaian simbol, jaket dan asesori Mapala lainnya tidak boleh dikenakan oleh sembarang orang, nomor anggota sebagai identitas diri, serta salam lestari sebagai kata pembuka baik saat pertemuan maupun dalam surat-menyurat.

Selanjutnya Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana berkembang sejalan dengan visi dan misi yang diembannya sesuai dengan dinamika perkembangan kehidupan kampus dan dunia kepecintaalaman.

Perkembangan Mapala Wanaprastha Dharma Hingga Kini

Selama dua puluh lima tahun berdiri, Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana telah begitu banyak mengalami perubahan. Dari angkatan pertamanya yang berjumlah 40 orang, keanggotaan Mapala Wanaprastha Dharma kini telah menjadi 24 angkatan dengan jumlah total anggota 613 orang. Mapala Wanaprastha Dharma telah mengalami dua puluh satu periode kepengurusan, dipimpin oleh dua puluh orang ketua (Bagus Kerta Negara terpilih sebagai Ketua Umum dalam dua periode kepengurusan), mengalami penyempurnaan-penyempurnaan dalam kurikulum pendidikannya, dan dinamika dalam beragam bentuk aktivitasnya.

Divisi Mountaineering telah terbentuk sejak berdirinya Group Pendaki Gunung Fakultas Teknik. Dimulai sejak pendakian Gunung Batur dan Gunung Abang oleh IGP. Anindya Putra dan kawan-kawan. Lalu serangkaian pendakian gunung pada era 1982-1984 yang dilakukan antara lain oleh IG. Rai Oka Kresna (Pipit), Gede Sedana (Gobis), IB. Narendra (Gus Naren) dan lain-lain.

Di bidang panjat tebing, pada tahun 1987 itu pula Kuanto, Eddy Agung dan Barry Anthonius mengikuti pendidikan panjat tebing yang diadakan oleh perkumpulan panjat tebing terkemuka di tanah air, Skygers. Mulai saat itulah panjat tebing masuk dan menjadi trend baru di Bali. Selain nama-nama di atas, tercatat Wayan Gede Arnawa (Alu), Oka Mantara, Janur Yasa, Suhardi, Toton S., Budiasa, Ahmad Yani, Irfanuddin, Nicolas Raing dan LG. Maharani sebagai pengibar eksistensi divisi ini.

Di periode kepengurusan 1994/1995 hingga 1995/1996 antara panjat tebing dan hutan gunung pernah dipisahkan dalam sub divisi yang berbeda Lalu setelah itu di periode 1996/1997 kedua sub divisi tersebut disatukan kembali dalam divisi yang sama dengan alasan, antara panjat tebing dan hutan gunung keduanya haruslah dikuasai seorang mountaineer Mapala WD.

Pada Agustus 1984 HIKESPI menyelenggarakan Kursus Dasar Speleologi dilanjutkan dengan Kursus Lanjutan Speleologi di Cisarua, Jawa Barat yang diikuti oleh dua orang anggota Mapala Wanaprastha Dharma Unud yakni Avandy Djunaedi dan Hepto Santoso. Sejak saat itulah Caving masuk ke dalam aktifitas Mapala WD. Di tahun berikutnya, Agustus 1985, Avandy dan Hepto kembali mengikuti Kursus Lanjutan Speleologi HIKESPI.

Pada tahun 1994 pengurus Mapala WD mendapat tawaran pelatihan oleh manajemen PT. Sobec Bina Utama. Tawaran ini segera direspon pengurus dengan membuka pendaftaran bagi para anggota yang berminat untuk dilatih teknik-teknik dasar arung jeram. Akhirnya terkumpullah sepuluh orang yang bersedia (Barry Anthonius, Patra “Caluq” Budiada, Wayan Gede “Alu” Arnawa, Suhardi, Frank Sinarta, Made “Marley” Wardani, Apriyanto Rajah, M. Farish, Made “Cakil” Sugiarta dan Nyoman”Gatem” Sukawirma). Segera disusun jadwal latihan antara siswa dengan pelatih. Dan akhirnya pada bulan Juli-Agustus 1994 mereka dilatih di Sungai Ayung dengan pelatih Made Puput, Suarsana dan Oka dari Sobec.

Lalu beberapa bulan kemudian tepatnya pada November 1994 Mapala Wanaprastha Dharma diundang oleh pihak PT. Sampoerna untuk mengikuti Kejuaraan Arung Jeram yang berlokasi di Sungai Ayung.

website: http://mapala-wd.org/index.php?cat=about&id=101

alamat: Kampus Universitas Udayana Jl. PB Sudirman Denpasar - Bali, Telp. 0361 8513413


About this entry