Catatan Kecil Perjalanan Catur Wijaya(Part I)
Pengantar :
Tulisan ini adalah kiriman dari Saudara Catur Wijaya SE., yang berdomisili di Surabaya mengenai keluh kesahnya tentang kondisi alam di sekitar kita dan keinginannya untuk setidaknya menjadikannya lebih baik daripada ikut-ikutan semakin memperparah kondisi lingkungan.
Catur Wijaya SE. adalah salah seorang anggota Mahapala STIESIA di Surabaya angkatan ’94 (kalo ga salah), aktivis lingkungan, Koordinator relawan banujir bandang di Situbondo 2001, relawan banjir banding di Pacet, Mojokerto 2002, relawan bencana longsor di Jember, Gempa dan Tsunami Aceh, dan juga relawan Gempa Jogja 2006. Dalam perjalanan ‘petualangannya’ selalu mebuat catatan tersendiri tentang pentingnya penyelamatan alam tempat kita bermain.
Kami mohon maaf kepada saudara catur Wijaya, karena baru saat ini tulisan kiriman ini dapat dimuat di halaman blog MAPALA.NET dikarenakan keterbatasan waktu dan sarana yang kami miliki. Tulisan yang panjang ini akan kami hadirkan secara bersambung. Sekiranya tulisan ini dapat diambil hikmah dan pembelajaran dibalik catatan kecil perjalanan petualangan nya.
Bola Dunia yang Diberkahi
Awal ’94, aku sering bermain di tebing Panceng, dusun Gosari, desa Sekapuk, Gresik. Pada mulanya tebing tersebut masih terasa lega. Masih banyak tebing berdiri megah menjualng dengan keangkerannya untuk ditaklukkan. Namun lambat laun. Kawasan Karst itu mulai tergerus dengan adanya eksploitasi kapur untuk Industri. Padahal, tebing di kawasan ini telah banyak melahirkan atlet PON Jawa Timur, karena sering dijadikan sebgai tempat pelatihan bagi atlet panjat tebing. Saat ini banyak sekali rongga-rongga yang dapat ditemui yang membuat keindahannya semakin pudar dan kemudian hilang.
Tahun ’03, aku sempat memberikan foto-foto kerusakan tebing karst ke Instansi terkait dan kemudian diteruskan ke IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), namun hasilnya 0 besar. Tidak ada follow-up karena tebing tersebut adalah milik perseorangan.
Sering juga bermain di Sungai Kendal Payak, Malang, sebagai sungai yang tidak memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Ga kalah apes nya dengan tebing di Gresik, sungai inipun menjadi tempat aliran limbah. Sampai-sampai rekan2 Mapala yang bermain disana mengatakan “banyune nggarakno gatel, rek” (airnya bikin gatal).
Goa Lowo di Tuban juga mengalami nasib serupa. Stalaktit dan Stalakmit nya dipotong di bagian dalam, diambil yang mengandung kapur, namun tidak menutup kemungkinan Goa ini akan berubah nama menjadi Goa Kumuh, mengingat banyaknya sampah serta karung2 bekas galian berserakan disana.
Dahulu, Gunung Penanggungan di Mojokerto adalah tempat favoritku naik gunung ketika SMU. Namun saat ini, banyak rekan rekan yang malas mendakinya. Jawaban yang kuterima adalah : “males, panas, gersang, gak asik”, dsb. Aku sempat befikir, apa yang sudah aku berikan pada alam? Alam sudah banyak ku eksploitasi demi kesenangan ku, atau aku memang manusia yang tidak tahu diri, tertawa di atas penderitaan alam?
Tahun 2001, aku bersama rekan-rekan membentuk komunitas peduli lingkungan di Surabaya, mengadakan lomba menggambar dan mewarnai bertema lingkungan sudah aku laksankan. Namun baying-bayang kerusakan alam terus mengiringi setiap aku mencoba menutup mata. Bersambung………..
About this entry
You’re currently reading “Catatan Kecil Perjalanan Catur Wijaya(Part I),” an entry on Mapala.net
- Published:
- 01.06.08 / 9pm
- Category:
- Umum, Events, Lingkungan, Tokoh




No comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]