demo-crazy party
Pemilihan Umum, sebuah hajatan nasional 5 tahunan yang acap kali disebut sebagai pesta demokrasi ternyata masih banyak menimbulkan kekacauan di sana-sini, salah satunya adalah kelakuan para peserta Pemilu yang sering mengobral sumber daya alam dalam berbagai kegiatan kampanye. Contoh gampang adalah masing-masing caleg dari parpol menebang sejumlah batang bambu hanya untuk urusan sesaat tanpa ada timbal balik terhadap lingkungan. Ada 38 partai peserta Pemilu 2009, jika setiap parpol memiliki 10 caleg, setiap caleg membuat 10 baliho dan setiap baliho membutuhkan 2 batang bambu, maka siapakah nama sang juragan pemilik lahan hutan bambu itu???
hehehe….
Ini baru Pemilu nasional, belum termasuk yang Pilkada, Daerah Tingkat I ada 33 provinsi, terus Daerah Tingkat II, anggap aja setiap provinsi punya 50 kabupaten dan kotamadya, kalo setiap daerah punya 3 pasang kandidat, setiap kandidat bikin 10 baliho …
Ini juga baru jaman anteng-anteng, kalo udah musim arak-arakan, masing-masing parpol mengadakan konvoi dengan menghamburkan BBM di jalanan, sepeda motor diseting biar suaranya nyanter (tambahin lagi polusi suara!), berkendara serasa jalan raya itu punya mbah kakungnya! Akibatnya jelas keliatan, macet! Mobil numpuk di jalanan, nambahin lagi sumbangan CO2 ke atmosfer yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Emangnya siapa sih yang mereka elu-elukan dan teriakkan sebagai calon- calon wakil mereka di parlemen? Apakah para caleg dan parpol itu beneran bakalan memperbaiki kehidupan bangsa ini? Berdasarkan pandangan pribadi sih, mana ada parpol yang mencoba berfikir bijak terhadap rakyat, apalagi disuruh mikir kondisi alam!
Mereka tak pernah memperhatikan contoh dari Tuhan, dimana Dia mempersiapkan alam tempat tinggal manusia lebih dahulu, baru kemudian Dia titahkan manusia ke dalamnya. Alam udah dirancang supaya bisa menyediakan segala kebutuhan bagi semua makhluk-Nya secara seimbang dan berkelanjutan, dengan manusia yang dilengkapi dengan akal pikiran dan hati nurani, dipercaya untuk menjadi kholifah di dalamnya.
Tetapi yang kemudian terjadi, apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin hasil Pemilu yang demikian mahal itu? Lihat mereka, para rakyat jelata yang telah kehilangan kemakmurannya dan kini harus berjuang menandingi bencana dan daya dukung alam yang rendah. Bentuk-bentuk kearifan lokal dikalahkan oleh industri modern, kawasan penyangga stabilitas lingkungan tergusur oleh kekuatan modal ….
Mas-Mbak parpol, mbok ya`o … pada nengok juga alam tempat tinggal kalian itu …
Sebelum atmosfer kita naik pitam, sebelum aliran sungai kehilangan penglihatannya, sebelum bumi ini kejang2, sebelum angin kehilangan kesadarannya, sebelum kemarau dan hujan pingsan di tempat ….
Kepada teman-teman mapala, kira2 parpol yang bervisi-misi cinta alam itu yang mana ya … ??
~ kehancuran sumber daya alam sebuah negeri menjadi titik tolak runtuhnya peradaban ~
lyric & arrangement by Ari “Kentut”
rearrangement by Nino “Kiting”
tulisan ini, dan yang sejenisnya, dapat dibaca di www.plantagama.faperta.ugm.ac.id





9 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]