Heinrich Harrer, Sang Legenda…

“Wherever I live, I shall feel homesick for Tibet. I often think I can still hear the cries of wild geese and cranes and the beating of their wings as they fly over Lhasa in the clear cold moonlight. My heartfelt wish is that my story may create some understanding for a people whose will to live in peace and freedom has won so little sympathy form an
indifferent world
.”

(Heinrich Harrer, from the book “Seven Years in Tibet”)

Heinrich HarrerHeinrich Harrer dilahirkan di Hüttenberg, Carinthia, Austria pada tanggal 6 juli 1912. Dia bekerja seorang karyawan kantor pos di Austria. Dari tahun 1933 sampai 1938, Heinrich Harrer kuliah di universitas Karl-Franzens di Graz dengan fokus study pada geografi dan olahraga.

Harrer pernah menjadi menjadi anggota SS (Nazi Jerman) dengan pangkat Sersan. Di ditugaskan sebagai Instruktur dalam pelatihan olahraga dan atletik bagi pasukan Nazi. Namun dia tidak pernah terlibat dengan segala kegiatan Nazi yang Illegal, dikarenakan dalam kurun waktu pemerintahan Nazi, Ia hidup dalam pengasingan dan Penjara di India.

Pendakian pertama Heinrich Harrer dilakukan di North Face, Pegunungan Eiger, Switzerland dengan rekannya, Anderl Heckmair, Fritz Kasparek and Ludwig Vörg pada tanggal 24 juli 1938. ketika itu dia berusia 26 tahun. Kecintaannya pada dunia mountaineering dan climbing membuatnya lebih memilih untuk mendaki gunung mengikuti ekspedisi yang diadakan oleh negaranya, ketimbang menunggu istrinya yang tengah hamil.

Pada tahun 1952, Harrer kembali ke Eropa dan mengadakan berbagai macam ekspedisi, diantaranya adalah Alaska, Andes, Ruwenzori (mountain of the moon, Afrika). Pada tahun 1954, Harrer melakukan pendakian gunung Deborah dan Gunung Hunter, Alaska. Pada tahun 1962, dia memimpin ekspedisi pendakian puncak Carstensz, Papua, bersama empat orang dalam tim nya, yang merupakan orang pertama yang mencapai puncak Carstensz.

Harrer dikenal sebagai seorang Petualang dan juga seorang Mountaineer. Hidupnya lebih banyak dijalaninya dengan berpetualang dan mendaki dari satu gunung ke gunung lainnya. Dia menjadi orang kulit putih pertama yang mencapai puncak Carstensz Pyramid pada tanggal 13 februari 1962, sehari sebelum hari Valentine. Rekannya yang juga berhasil mencapai puncak dalam timnya adalah Russell Kippax dan Albert Huizenga.

Peter AufschnaiterKisah hidupnya diabadikan dalam banyak buku yang menceritakan tentang pengalamannya selama menjelajahi gunung dan berpetualang dari satu Negara ke Negara lain. Bukunya yang terkenal adalah “the White Spider”, yang menceritakan tentang perjalanannya selama mendakai gunung Eiger, North Face, Switzerland. Bukunya yang lain adalah “Seven Years in Tibet, yang kemudian dijadikan kisah film yang diperankan oleh Bradd Pitt. “Seven Years in Tibet” menceritakan perjalanannya selama mendaki puncak Everest, bersama rekannya Peter Aufschnaiter, yang gagal dan malah kemudian ditangkap oleh tentara Inggris di India.Harrer dan Dalai Lama Di Tibet itulah, ia berkenalan dengan Dalai Lama, pemimpin spiritual kota terlarang, Lhasa, Tibet. Dari sinilah, ahirnya Harrer dijadikan sebagai guru oleh Dalai Lama untuk mengajarkan pengetahuan tentang dunia luar dan juga pengetahuan umum lainnya. Harrer dan Dalai Lama berteman baik sampai ahir hayatnya. Bukunya yang lain adalah “I come from the Stone Age”, yang menceritakan tentang pendakian pertamanya ke puncak Carstensz, Papua, Indonesia. Sebagian besar dalam buku ini menceritakan kisah hidupnya selama di Papua.

Harrer meninggal pada usia 93 tahun, tepatnya pada tanggal 7 januari 2006. kisah hidupnya banyak mengilhami para petualang muda untuk mengikuti jejaknya dalam bertualang, mencari kedamaian diri dan ketenangan jiwa melalui Tafakkur Alam. Salah satunya adalah dengan mendaki gunung.

Selamat jalan, Heinrich Harrer !. semoga kisah hidupmu dapat menjadi teladan yang baik bagi kami semua.


About this entry